Lamunan Seorang George de Fretes
Frits George Karel de Fretes atau yang dikenal dengan nama George de Fretes adalah seorang musisi legendaris berdarah Ambon yang menjadi pelopor dan maestro musik Hawaiian di Indonesia dan Eropa.
Sebuah artikel yang berjudul "Kabur Aja Dulu" ala George de Fretes yang ditulis oleh Petrik Matanasi di Historia.id rupanya telah menjelaskan mengapa seorang George de Fretes kabur dari Tanah Air dan memilih untuk melanjutkan karir bermusiknya di Eropa dan pada akhirnya George de Fretes tutup usia pada tanggal 19 November 1981 di Los Angeles, California.
Namun, mengapa seorang pelopor, inovator dan seorang yang sangat berjasa untuk keberlangsungan musik Tanah Air memilih "kabur" menaiki kapal Johan van Oldebarnevelt dengan tujuan Belanda dengan segala susahnya mendapatkan izin visa dan memutuskan untuk menetap di sana? Mari kita bahas satu per satu.
Bukan Bung Karno namanya jika beliau tidak mengapresiasi musisi atau seniman pada era 50an. Bahkan, di era itu musisi dan seniman dijadikan sarana penting dalam membangun karakter bangsa. Keduanya, hidup di era yang sama, era pembentukan identitas nasional pasca kemerdekaan.
Kebijakan di bawah pemerintahan Soekarno pada saat itu (mungkin) cukup membuat para musisi dan seniman "kebingungan" dalam ranah kebebasan berekspresi. Pembatasan musik Rock and Roll atau yang Bung Karno sebut sebagai gerakan "Anti Ngak Ngek Ngok" tidak selaras dengan idealisme seorang George de Fretes yang ternyata, saat setelah pindah ke Belanda musiknya diterima hingga meledak saat George de Fretes menghidupkan kembali sebuah orkes bernama The Royal Hawaiian Minstrels dan sebuah grup krontjong bernama Suara Istana.
George de Fretes sempat kembali ke Indonesia.
Pada tahun 1976 tepatnya tanggal 17 Januari, George de Fretes diundang kembali ke Tanah Air untuk tampil di sebuah acara bernama "Duel Meet", yang dilaksanakan di Istora Senayan. Sebuah acara yang pada saat itu menggabungkan tiga elemen musik yang sangat berbeda yaitu; Koes Plus (Pop/Rock/Psychedelic Rock), Rhoma Irama bersama Om Soneta (Dangdut) dan bersanding dengan musik Hawaiian khas George de Fretes. Acara tersebut menuai sebuah insiden saat sebuah sendal dilempar dari arah penonton ke arah panggung saat mereka memainkan lagu ke-8. Insiden ini terjadi karena fenomena perbedaan antargenre yang super fanatik pada masa itu.
Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi faktor mengapa seorang George de Fretes pergi dan tidak kembali lagi. Ketegangan sosio-politik, kesuksesan di negara seberang, atau sakit hati lantaran lagu originalnya kerap diakuisisi beberapa pihak tanpa izin yang jelas (?).
Apapun itu alasannya, setiap lagu dan petikan gitar dari George de Fretes selalu terkenang-kenang dan selalu membangkitkan gairah untuk tetap bernyawa.
Terima kasih, Opa Tjoh.
